Laba Bersih GOTO Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, Ini Penopangnya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih Rp441 miliar, berbalik untung dari posisi rugi kuartal yang sama tahun lalu sebesar Rp255 miliar.
Kinerja Fintech GoPay menjadi penopang laba di tengah tekanan yang dihadapi On-demand Services (ODS) Gojek.
Di bisnis Gojek, penerapan batas komisi 8% pada layanan transportasi roda dua GoRide menekan profitabilitas. Sementara itu, GoPay terus meningkatkan kontribusinya seiring pertumbuhan penggunaan layanan keuangan digital dalam ekosistem GOTO.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi menilai pencapaian tersebut menunjukkan pentingnya melihat GOTO sebagai satu kesatuan bisnis. Menurutnya, perkembangan Gojek dan GoPay bersama-sama menentukan kemampuan grup mempertahankan momentum laba.
"GOTO terdiri dari Gojek dan GoPay. Ketika salah satu bisnis menghadapi tekanan, pertumbuhan bisnis lainnya membantu menjaga kinerja grup. Tiga kuartal berturut-turut mencetak laba bersih menunjukkan bahwa ekosistem GOTO berjalan dengan baik meski dihadapkan pada berbagai tantangan." ujar Leo, seperti dikutip Senin (2/11/2026).
Kuartal III-2026 menjadi periode penuh pertama penerapan komisi 8% pada GoRide. Meski layanan tersebut sempat mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli, kinerjanya kemudian membaik dan bergerak menuju titik impas.
EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat 84% YoY menjadi Rp950 miliar. Angka tersebut sudah memperhitungkan dampak komisi 8% pada layanan transportasi roda dua selama satu kuartal penuh.
"Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir," ujar Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, Kamis (29/10/2026).
Di tengah penyesuaian tersebut, GOTO memperlebar rentang pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis on-demand services yang mencakup Gojek menjadi Rp1,4-1,6 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun. Rentang tersebut memberikan ruang untuk mengantisipasi perkembangan regulasi berikutnya, termasuk aturan pelaksanaan layanan pengantaran.
Sementara itu, pertumbuhan GoPay menjadi penopang penting bagi kinerja grup. GOTO menaikkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis teknologi finansial menjadi Rp1,9-2,0 triliun, sekaligus meningkatkan pedoman grup menjadi Rp3,5-3,7 triliun untuk 2026.
"Perbaikan GoRide perlu terus dijaga, sementara momentum GoPay memberikan dukungan tambahan bagi grup. Tantangannya adalah memastikan keduanya dapat tumbuh secara berkelanjutan, sehingga kemampuan ekosistem memberikan manfaat juga semakin kuat," kata Leo.
Sebagai ekosistem digital terbesar di Indonesia yang menaungi Gojek dan GoPay, GOTO memiliki basis konsumen yang besar mencapai 72,5 juta serta jutaan mitra pengemudi, dan merchant yang menjadi fondasi pertumbuhan bisnisnya.
Bagi investor, keterhubungan tersebut membuka peluang untuk meningkatkan frekuensi transaksi, memperluas penggunaan layanan, dan mendorong efisiensi yang mendukung profitabilitas jangka panjang.
Menurut Leo, keberhasilan GOTO mencetak laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut perlu diikuti dengan penguatan ekosistem agar momentum tersebut berkelanjutan.
Kualitas layanan bagi konsumen, peluang pendapatan mitra pengemudi, serta pertumbuhan usaha merchant menjadi faktor penting untuk menjaga aktivitas transaksi dan memperkuat kemampuan GoTo menghasilkan laba serta arus kas.