TOBA Dapat Suntikan Rp7,77 Triliun Dari BlackRock, Duitnya Buat Ini

calendar_today October 27, 2026 at 21:29 person By Admin schedule 8 hours ago
TOBA Dapat Suntikan Rp7,77 Triliun Dari BlackRock, Duitnya Buat Ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten energi terbarukan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memperoleh investasi SGD555 juta atau setara Rp7,77 triliun dari HPS Investment Partners, bagian dari BlackRock, dan membuka peluang ekspansi bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia. Investasi ini sekaligus menyoroti model bisnis pengelolaan limbah TOBA menjangkau berbagai bagian dari rantai pasok pengelolaan limbah.

Baru-baru ini, pengolahan limbah sering diidentikkan dengan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Namun demikian, bisnis pengolahan limbah secara keseluruhan memiliki rantai nilai yang sangat panjang, mulai dari pengumpulan, pemrosesan, hingga pemanfaatan kembali. Menariknya, TOBA telah menyatakan tidak memprioritaskan keterlibatan dalam proyek PSEL yang kini dikembangkan Danantara di Indonesia. Perseroan justru berfokus membangun bisnis pengelolaan sampah terintegrasi dengan cakupan regional, khususnya di kawasan Asia.

Berdasarkan informasi dari situs resmi perusahaan, bisnis pengelolaan sampah TOBA mencakup seluruh rantai layanan, mulai dari pengumpulan sampah (waste collection), pemilahan dan daur ulang (recycling), pengolahan limbah medis dan industri, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi uap untuk industri.

Melalui model bisnis terintegrasi tersebut, TBS memiliki sejumlah sumber pendapatan, antara lain jasa pengumpulan dan pengolahan sampah, pemulihan material yang dapat didaur ulang, serta penyediaan energi uap untuk kebutuhan industri.

Berdasarkan siaran pers TOBA, investasi HPS akan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen baru ke anak usaha SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH) serta instrumen lainnya. Pendanaan tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis pengelolaan sampah TBS di kawasan Asia, baik secara organik maupun melalui akuisisi.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, menilai model bisnis pengelolaan sampah perlu dilihat secara lebih menyeluruh karena masing-masing bagian menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih luas dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah.

"Bisnis pengelolaan limbah tidak hanya tentang mengolah sampah menjadi listrik. Ada rantai bisnis yang panjang, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, daur ulang, hingga pengolahan akhir. Setiap tahapan memiliki potensi pendapatan sehingga model bisnis terintegrasi dapat menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam," ujar Leonardo, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Di Singapura, TBS memiliki Cora Environment, perusahaan pengelolaan sampah yang sebelumnya dikenal sebagai Sembcorp Environment dan SembWaste. Cora menjalankan bisnis pengumpulan sampah rumah tangga, komersial, dan industri, serta menyediakan layanan pemilahan dan daur ulang melalui fasilitas pemulihan material (material recovery facility).

Selain kegiatan tersebut, Cora juga mengoperasikan fasilitas Energy-from-Waste (EfW) di Singapura yang mampu mengolah sekitar 360.000 ton limbah per tahun. Fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 1,2 juta ton uap industri (steam) per tahun untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri di Jurong Island.

Berbeda dengan PSEL yang menghasilkan listrik, fasilitas EfW Cora memanfaatkan panas dari pembakaran sampah untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Dengan demikian, pengolahan sampah menjadi energi merupakan salah satu bagian dari rantai bisnis Cora, bukan satu-satunya kegiatan usaha perusahaan.

Selain Cora, TOBA memiliki Asia Medical Enviro Services (AMES) yang bergerak dalam pengelolaan limbah medis di Singapura. Sementara di Indonesia, PT Arah Environmental Indonesia menjalankan bisnis pengelolaan limbah medis, industri, dan rumah tangga di 15 provinsi.

Secara kolektif, ketiga perusahaan tersebut mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah sepanjang semester I/2026. Cora juga melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan bisnis di Singapura.

Menurut Leonardo, keberagaman layanan pengelolaan sampah memberikan peluang bagi TOBA untuk membangun sumber pendapatan berulang sekaligus mengembangkan skala bisnis melalui ekspansi regional.

"Pengelolaan limbah merupakan kebutuhan rutin rumah tangga maupun industri. Perusahaan yang memiliki jaringan pengumpulan, fasilitas daur ulang, hingga kemampuan mengolah limbah menjadi energi berpotensi memperoleh pendapatan yang lebih stabil dan meningkatkan efisiensi melalui integrasi operasional," katanya.

Sejalan dengan strategi tersebut, TOBA sejak sebelumnya telah memprioritaskan ekspansi bisnis pengelolaan sampah di kawasan Asia, bukan menjadi pengembang proyek PSEL yang digagas Danantara di Indonesia. Pada Oktober 2025, TOBA telah menyatakan bahwa proyek PSEL Danantara bukan prioritas perusahaan.

Menurut Leonardo, rencana investasi HPS hingga Rp7,77 triliun berpotensi memperkuat ekspansi bisnis pengelolaan limbah TBS di kawasan Asia, baik melalui pengembangan fasilitas maupun akuisisi perusahaan sejenis.

"Dengan jaringan operasional yang lebih luas, TOBA berpeluang meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi bisnisnya. Hal ini menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang," pungkas Leonardo.

Share insight ini: